BANDUNG, itb.ac.id - Kedutaan Besar Jepang beserta perwakilan dari universitas-universitas ternama di Jepang yang tergabung dalam program Global 30 menyelenggarakan seminar studi di Jepang dan expo pendidikan di Jepang di Aula Timur ITB pada Minggu (15/05/11). Selain mendapatkan informasi yang lengkap mengenai program-program studi yang disediakan dalam booth masing-masing universitas, para pengunjung juga dipersilakan untuk mengikuti simulasi dari beberapa dosen Jepang dalam bahasa Inggris. Melalui kegiatan ini, pemerintah Jepang berharap dapat pelajar-pelajar Indonesia bersemangat dan tidak ragu lagi untuk melanjutkan studi di Jepang.Pameran pendidikan ini merupakan bagian dari program Global 30 yang dicanangkan oleh pemerintah Jepang pada tahun 2008, untuk melakukan internasionalisasi pendidikan di Jepang dengan target menerima 300.000 mahasiswa asing pada tahun 2020. Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah Jepang sudah mulai membenahi diri dengan memberikan berbagai macam kemudahan untuk mendaftarkan diri ke universitas-universitas Jepang serta menyediakan lingkungan yang memudahkan mahasiswa asing untuk tinggal dan belajar di Jepang.
Banyak program studi yang kini menyelenggarakan kuliah 100% dalam bahasa Inggris. Kesempatan studi pun diperluas, kini tidak hanya program kuliah reguler yang ditawarkan, namun juga program pertukaran pelajar singkat selama beberapa bulan untuk mengenal atmosfer pendidikan Jepang secara langsung.Terhitung 17 universitas-universitas ternama Jepang mengirimkan perwakilan untuk pameran ini, antara lain Universitas Tohoku, Universitas Tsukuba, Universitas Tokyo, Universitas Nagoya, Universitas Kyoto, Universitas Osaka, Universitas Kyushu, Universitas Keio, Universitas Sophia, Universitas Meiji, Universitas Waseda, Universitas Doshisha, Universitas Ritsumeikan, Universitas Chiba, Universitas Shizuoka, Universitas Teknologi Toyohashi, dan Universitas Hiroshima.
Setiap universitas menyediakan informasi yang lengkap dan menyeluruh, serta menjawab dengan baik setiap pengunjung yang datang bertanya. Kedutaan Besar Jepang serta Japan Student Service Organization (JASSO) juga hadir untuk memberikan informasi secara umum untuk topik-topik seperti atmosfer pendidikan di Jepang dan program beasiswa. "Great service, great information. Mereka semua sangat welcome," puji Doni Herlambang (Fisika 2007) yang mengikuti pameran ini.
Selain mendapatkan informasi studi dari perwakilan universitas, para pengunjung juga dapat merasakan langsung suasana belajar dengan mengikuti simulasi kuliah yang diberikan oleh dosen-dosen Jepang mengenai berbagai topik menarik dalam bahasa Inggris. Terhitung sembilan sesi masing-masing dalam dua ruangan berbeda membahas berbagai bidang penelitian dan perkenalan universitas.
"Sangat bermanfaat. Bahkan ada profesor dan wakil rektor yang datang, semuanya membawa informasi yang fresh. Sayangnya seminar dan expo dilakukan bersamaan, jadi tidak bisa ikut semua seminarnya," komentar Nida Asma Amaniy (Teknik Industri 2009) yang telah mengikuti pameran ini sejak awal.
Saat ini, jumlah mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Jepang berjumlah 2.190 orang, menempati peringkat 8 di dunia dan peringkat 4 di ASEAN, setelah Vietnam, Malaysia, dan Thailand. "Persentasenya sangat kecil dari keseluruhan mahasiswa asing di Jepang jika mempertimbangkan kedekatan hubungan Jepang-Indonesia," ujar Hiroaki Motomura, Sekretaris bidang Pendidikan dari Kedutaan Besar Jepang, "Kami berharap jumlahnya bisa meningkat."
Untuk informasi lebih lanjut mengenai kesempatan belajar di Jepang melalui program Global 30, dapat dibuka di sini.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai kesempatan belajar di Jepang melalui program Global 30, dapat dibuka di sini.



23.59
Monica Catalonia
Posted in: 
Berbicara tentang Pendidikan Kejuruan di Jepang harus dimulai ceritanya sejak pasca PD II. Sebagaimana di Indonesia, pendidikan kejuruan saat masa perang tidak saja diberikan di tingkat sekolah menengah, tetapi sudah dimulai dari SD. Mata pelajaran sanggyou (bekerja di industri) adalah sebuah jalan untuk memberikan keterampilan yang memadai kepada siswa-siswa tentang praktek industri sebenarnya. Kegiatan ini kemudian mulai dihapuskan dan pendidikan kejuruan semuanya dilakukan di sekolah dengan melengkapi fasilitas sekolah terutama sekolah kejuruan dengan mesin-mesin dan alat-alat sebagaimana di industri.
SMA Nakamura merupakan SMA dengan level menengah ke atas. SMA Nakamura berdiri pada tahun 1953 dan seperti halnya sekolah-sekolah yang lain di Jepang memiliki fasilitas sekolah yang lengkap. SMA Nakamura adalah SMA yang menganut sistem full time course dengan hari belajar dari Senin hingga Jumat, dan bertujuan untuk mengarahkan lulusannya melanjutkan ke PT. Ada 935 siswa yang sedang belajar di SMA Nakamura, terdiri dari 8 kelas untuk masing-masing tingkatan. Masing-masing kelas terdiri dari 40 orang siswa. Mereka diajar oleh 61 guru tetap dan 19 guru honorer.
Sistem Evaluasi adalah sistem yang menjadi mutlak dalam proses belajar mengajar. Guru mengevaluasi kemampuan siswa adalah hal yang sudah biasa, tetapi siswa yang menilai pengajaran guru barangkali masih langka di negara kita.


















