1. SEJARAH KEBUDAYAAN JEPANG
Kebudayaan selalu dibedakan dengan budaya. Jikalau ditanya apa contoh kebudayaan Jepang, maka mungkin akan dijawab adalah Chanoyu, Ikebana, masakan Sukiyaki atau pakaian Kimono. Tetapi kalau ditanya apa contoh budaya Jepang, maka akan dijawab adalah budaya rasa malu, budaya kelompok atau budaya nenkoujoretsu (senioritas) dan sebagainya. Oleh karena itu dari contoh-contoh di atas orang menunjukkan bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang konkrit. Sedangkan budaya adalah sesuatu yang Semiotik, tidak kentara atau bersifat laten.
Kebudayaan selalu dibedakan dengan budaya. Jikalau ditanya apa contoh kebudayaan Jepang, maka mungkin akan dijawab adalah Chanoyu, Ikebana, masakan Sukiyaki atau pakaian Kimono. Tetapi kalau ditanya apa contoh budaya Jepang, maka akan dijawab adalah budaya rasa malu, budaya kelompok atau budaya nenkoujoretsu (senioritas) dan sebagainya. Oleh karena itu dari contoh-contoh di atas orang menunjukkan bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang konkrit. Sedangkan budaya adalah sesuatu yang Semiotik, tidak kentara atau bersifat laten.
Ienaga Saburo (1990:1) membedakan pengertian kebudayan (bunka) dalam arti luas dan dalam arti sempit. Dalam arti luas kebudayaan adalah seluruh cara hidup manusia ( /ningen no seikatsu no itonami kata). Dia menjelaskan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan hal yang bukan alamiah. Misalnya ikan adalah suatu benda alamiah, tetapi dalam suatu masyarakat ikan tersebut dibakar, atau di pepes atau dibuat sashimi maka ikan bakar atau ikan pepes atau ikan shashimi tersebut adalah kebudayaan.
Apabila kebudayaan adalah segala sesuatu yang sudah di Jamah manusia untuk memenuhi kehidupannya, maka kajian kebudayaan adalah sesuatu yang sangat konpleks. Misalnya kalau kita hendak mengkaji kebudayaan Ikebana (merangkai bunga) maka kita tidak cukup hanya mengkaji objek bunga saja karena itu hanya berupa teknik merangkai bunga saja. Tetapi Kita harus mengkaji kehidupan masyarakat penghasil Ikebana tersebut, kemudian harus mengkaji hal-hal yang semiotik dari masyarakat tersebut supaya kita dapat mengerti ikebana dalam kehidupan dan sejarah orang Jepang. Karena Ikebana itu muncul dari dalam sejarah sistem pendidikan dan juga dalam sistem religi masyarakat Jepang. Ikebana dihasilkan dalam kebudayaan Jepang karena sesuai dengan kebudayaan semiotik, kemudian tumbuh dalam proses pendidikan masyarakat Jepang. Oleh karena itu dalam mempelajari kebudayaan ada tiga poin yang menjadi pusat perhatian kita, yaitu masyarakat penghasil kebudayaan tersebut (sejarah lahirnya kebudayaan tersebut), objek kebudayaan itu sendiri dan masyarakat pengguna kebudayaan atau fungsi kebudayaan tersebut dalam masyarakat pengguna. Namun kebudayaan tersebut dapat juga diterima di negeri asing. Seperti contohnya Karate, Judo, ikebana sering kita jumpai juga dipergunakan oleh masyarakat diliar masyarakat Jepang. Namun kadang-kadang sudah melalui proses adabtasi budaya, sehingga sering ada pengurangan atau penambahan maknanya.



22.11
Monica Catalonia
Posted in:

0 komentar:
Posting Komentar